Rabu, 04 April 2012

Modernisasi Islam Dalam Pandangan Muhammad Abduh

MODERNISME ISLAM
 DALAM PANDANGAN MUHAMMAD ABDUH

A.    KEMUNCULAN MODERNISME DALAM ISLAM
1.      Pengetian Modernisme
Modernisme, modernisasi dan modernitas merupakan padanan kata dari pembaharuan. Modernisasi lahir di Dunia Barat, yang muncul sejak renaisans terkait dengan masalah agama. Menurut masyarakat Barat kata modernisasi itu mengandung pengetian pikiran, ide, aliran, gerakan dan usahan untuk mengubah paham-paham, ada istiadat, dan sebagainnya agar semua itu dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.[1]  
Modern berarti terbaru, mutakhir atau sikap dan pola pikir serta tindakan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Sedangkan modernisasi adalah suatu proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan hidup masa kini. Modernisasi atau pembaharuan disebut juga dengan “reformasi”, yakni membentuk kembali, atau mengadakan perubahan atau perbaikan kepada yang lebih baik. Dalam bahasa Arab, modernisasi atau pembaharuan sering diartikan dengan tajdi>d (yang memperbaharui), sedangkan pelakunya disebut mujaddi>d (orang yang melakukan pembaharuan).[2]
Modernisasi identik dengan artian rasionalisasi. Maksudnya adalah proses perombakan pola berpikir dan tatakerja lama yang akliah (rasional), dan menggantikannya dengan pola berpikir dan tatakerja baru yang akliah. Yang fungsinya untuk memperoleh daya guna dan efisiensi yang maksimal.[3]
Modernisasi dilakukan dengan melakukan penemuan mutakhir oleh manusia dibidang ilmu pengetahuan. Dan pengetahuan itu sendiri merupakan hasil pemahaman manusia terhadap hukum-hukum yang obyektif yang menguasai alam, ideal dan material, sehingga alam ini berjalan sesuai dengan kepastian tertentu dan harmonis. Manusia yang bertindak menurut ilmu pengetahuan (ilmiah), ialah manusia yang bertindak menurut hukum alam yang berlaku.[4] Jadi modernisasi itu adalah rasionalisasi yang ditopang oleh dimensi-dimensi moral, dengan berpijak pada prinsip iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2.      Perkembangan Modernisasi Islam
Modernisme atau pembaharuan dalam Islam timbul dalam periode sejarah Islam sekitar abad ke-19. Sebagaimana yang diketahui, bahwasanya didalam sejarah Islam, periodesasi sejarah Islam dibagi kedalam tiga periode besar, yakni periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800- sekarang).[5]
Modernisasi Islam muncul karena akibat dari ketertinggalan yang dihadapi umat Islam dari bangsa Barat. Pada masa awal, dunia Islam mengalami perkembangan yang signifikan dibidang ilmu pengetahuan. Namun puncak kemegahan dunia Islam itu akhirnya mengalami kemerosotan, disertai dengan kemunduran pada abad ke-10, kemudian tenggelam berabad-abad lamannya. Bebarapa faktor yang menyebabkan kemunduran tersebut, antara lain:[6]
a)      Isu pintu ijtihad tertutup telah meluas di kalangan umat Islam, yang berdampak kepada kemunduran pemikiran dalam ilmu pengetahuan.
b)      Keutuhan umat Islam dalam bidang politik mulai pecah, kekuasaan khalifah menurun, umat Islam terpecah belah dan saling bermusuhan.
c)      Adanya perang Salib yang dilakukan oleh gereja Katolik Roma, dan serbuan tentara Barbar dibawah kepemimpinan Hulagukan dari Tartar. Sehingga kota Bagdad dirampas dan dihancurkan pada tahun 1258 M.
Namun faktor yang utama yang menyebabkan kemunduran dunia Islam adalah kemunduran spirit yang yang menimpa umat Islam, seperti khurafat, umat Islam tidak lagi menggunakan pikirannya sebagaimana para pemikir sebelumnya yang melakukan ijtihad, untuk menggali sumber yang asli al-Qur’an dan Hadits, praktek bermazhab dan bi’dah berkembang dan subur pada masa itu.
 Periode modern dinamakan juga dengan zaman kebangkitan Islam. Karena pada masa ini terjadinya kontak antara Islam dan dunia Barat yang pada akhirnya membuka mata dunia Islam. Hal ini ditandai dengan ekspedisi Napoleon Bonaparte ke Mesir,[7] baik itu secara kultural maupun secara politis.[8] Sehingga mengguncang pondasi negeri yang menggunakan bahasa Arab itu. Mereka memperkenalkan budaya Perancis dan ilmu pengetahuan Barat pada orang-orang Mesir, kemudian orang-orang Arab secara keseluruhan. 
Dengan adanya kontak antara Islam dan Barat, maka timbullah pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam.[9] Kemudian pemuka-pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana cara dan solusi untuk membuat umat Islam maju kembali sebagaimana kemajuan yang pernah dirasakan umat Islam pada masa sebelumnya.
Faktor-faktor lain yang mendukung terjadinya modernisasi pada dunia Islam khususnya Mesir pada saat itu, yakni perhatian yang besar dari gubernur Mohammad Ali terhadap kebudayaan Mesir, seperti pendidikan dan penerjemahan ilmu-ilmu pengetahuan Barat ke dalam bahasa Arab. Untuk mewujudkan keinginannya itu, maka gubernur Ali mengirim para pelajar keluar negeri, seperti ke Perancis, Inggris, Italia Chekoslowakia untuk belajar dibeberapa universitas. Tujuan Ali yakni agar terwujudnya suatu generasi penerus yang memiliki ilmu pengetahuan tentang Eropa dan bahasanya. Selain itu, agar para pelajar dapat mentrasfer ilmu pengetahuan Barat dan peradabannya ke dalam bahasa Arab (menterjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab), sehingga ilmu tersebut dapat diberikan di sekolah-sekolah yang menggunakan kata pengantar bahasa Arab.[10]
Muhammad Abduh adalah salah satu murid dari Jamaluddin al-Afghani. Beliau adalah ulama pembaharu yang memiliki sudut pandang yang berbeda dengan gurunya. Semenjak tersiar kabar tentang pengasingan gurunya, yakni al-Afghani, beliau memilih jalan damai/moderat sebagai pola perjuangannya dan mengajak umat untuk berjuang dengan lebih hati-hati dan memperhatikan seluruh dampak yang ditimbulkannya. Seluruh waktu dan kerja kerasnya digunakan untuk mengembangkan pemikiran yang reformis dan pola pendidikan yang sistematis. Disamping itu, ‘Abduh sangat berhati-hati dalam melakukan kegiatan politik yang menggangu kekuasaan penjajah Inggris.

B.     Kehidupan Muhammad Abduh
Muhammad Abduh merupakan seorang ulama, pemikir dan pembaharu Mesir. Menurut Esposito ia dianggap sebagai arsitek modernisme Islam.[11] Ia lahir di Mahallah Nasr suatu perkampungan agraris termasuk Mesir Hilir di propinsi Gharbiyyah pada tahun 1265 H/1849 M.[12] Ayah Muhammad Abduh bernama Abduh Hasan Khairullah,berasal dari Turki yang telah lama tinggal di Mesir. Sedangkan ibunya berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya sampai ke suku bangsa Umar Ibn al-Khatab.[13]
Abduh Hasan Khairullah menikahi ibunya Muhammad Abduh sewaktu merantau dari desa ke desa dan ketika ia menetap disuatu wilayah yang bernama Mahallah Nasr, Muhammad Abduh masih dalam Ayunan dan gendongan ibunya. Dengan asuhan ibu dan ayahnya yang tidak ada kaitannya dengan didikan sekolah, tetapi mereka memiliki jiwa keagamaan yang teguh.[14] Muhammad Abduh lahir, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa dalam lingkungan desa. Lingkungan desa Muhammad Abduh adalah lingkungan orang-orang miskin, seperti kehidupan di desa-desa lain di Mesir, dimana penduduknya bekerja dengan sungguh-sungguh, beriman kepada Allah dan yakin dihari kiamat kelak mendapat balasan dari-Nya.
Muhammad Abduh dikirim oleh ayahnya ke Tahta untuk belajar ilmu agama di masjid Syekh Ahmad pada tahun 1862. Diriwayatkan bahwasanya selama 2 tahun belajar di Tahta, ia merasa tidak mengerti dan memahami apa-apa.[15] Maka ia pun mengatakan, bahwa metode yang dipakai pada saat itu yakni metode menghafal diluar kepala, mengahafal istilah-istilah tanpa mengetahui makna dan maksudnya. Sehingga ia mengatakan metode dan sistem pembelajarannya yang salah.
Tahun 1865 M, ia menikah pada usia 16 tahun, kemudian ia kembali berniat untuk menuntut ilmu. Ia dididik oleh Syekh Darwisy Khadr, yang merupakan paman dari ayah Muhammad Abduh. Syekh Darwisy inilah yang mengubah jalan hidup Abduh, karena ia mengetahui keengganan Abduh untuk belajar hingga menjadi orang yang suka dan gemar akan buku-buku dan ilmu pengetahuan. Akhirnya ia pergi ke Tahtan untuk meneruskan pelajarannya.
Setelah ia belajar banyak tentang ilmu pengetahuan dari Syekh Darwisy, ia pun melanjutkan studinya ke al-Azhar pada tahun 1866 M. Pada waktu di al-Azharlah ia bertemu dengan Jamaluddin al-Afghani tokoh Pan-Islamisme.[16] Al-Afghani pada saat itu datang ke Mesir dalam perjalanannya ke Istanbul. Pada tahun 1871 al-Afghani hidup menetap di Mesir, kepadanyalah Muhammad Abduh berguru. Ia merupakan murid al-Afghani yang paling setia. Ia belajar filsafat  kepada al-Afghani, demikian juga politik karena al-Afghani terkenal dengan ilmu politiknya.[17] 
Muhammad Abduh pernah diusir dari Mesir karena keterlibatannya dalam mengadakan gerakan menentang Khedewi Taufik seorang penguasa Mesir pada tahun 1879, yang gerakan ini dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani. Abduh dijatuhi tahanan kota diluar Kairo karena ikut campur dalam gerakan tersebut. Namun setahun kemudian berkat usaha Perdana Menteri Riyad Pasya, ia kembali ke Kairo dan diangkat sebagai pimpinan redaksi al-Waqa>’i al-Mis}riyyah semacam koran negara yang menyiarkan tentang berita-berita resmi pemerintahan dan juga artikel-artikel tentang kepentingan-kepentingan nasional Mesir. Kemudian pada tahun 1884, ia dan al-Afghani mendirikan majalah al-Urwatul Wutsqa, walaupun umurnya tidak bertahan lama. Namun melalui majalah inilah ditiupkannya suara keinsyafan ke seluruh dunia Islam, agar mereka bangkit dari tidurnya. Gebrakan ini dengan cepat tersiar keseluruh dunia Islam, yang pengaruhnya sangat besar dikalangan umat Islam, maka kaum Imperialis menjadi cemas dan gempar akan kemajuan yang dialami umat Islam. Pada tahun 1899 ia diangkat menjadi mufti Mesir sampai ia wafat.[18] Disamping itu, dia juga diangkat menjadi anggota Majelis Perwakilan (Legislative Council), Abduh juga pernah diserahi jabatan Hakim Mahkamah, dan didalam melaksanakan tugasnya ini, ia dikenal sebagai hakim yang adil.[19]
Muhammad Abduh wafat pada tanggal 11 Juli 1905 di Alexandria. Setelah banyak melakukan modernisme dalam Islam dan juga banyak mewarisi peninggalan berharga bagi generasi selanjutnya.

C.    Metode Muhammad Abduh Dalam Modernisme
Dalam melakukan modernisme atau pembaharuan Muhammad Abduh memandang bahwa suatu perbaikan tidak selalu datang melalui revolusi atau cara serupa. Seperti halnya perubahan sesuatu secara cepat dan drastis. Akan tetapi juga dilakukan melalui perbaikan metode pemikiran pada umat Islam. Metode pemikiran itu dapat dilakukan melalui pendidikan, pembelajaran, dan perbaikan akhlak. Juga dengan pembentukan masyarakat yang berbudaya dan berfikir yang bisa melakukan pembaharuan dalam agamanya. Dengan demikian akan tercipta rasa aman dan keteguhan dalam menjalankan agama Islam. Muhammad Abduh menilai bahwa cara seperti ini akan membutuhkan waktu lebih panjang dan lebih rumit. Akan tetapi memberikan dampak perbaikan yang lebih besar dibanding melalui politik dan perubahan secara besar-besaran dalam mewujudkan suatu kebangkitan dan kemajuan. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa pembaharuan (tajdi>d) adalah kebangkitan dan penghidupan kembali dalam bidang keilmuan Islam dan aplikasi sebagaimana pada zaman Rasullullah dan para sahabat. Yang selama ini sempat hilang, terlupakan, bahkan terhapus dari tubuh umat Islam.
Kemunduran yang terjadi pada umat Islam menurut Abduh disebabkan oleh paham Jumud. Jumud diartikan suatu keadaan yang beku, keadaan statis, tidak adanya perubahan. Karena dipengaruhi oleh paham jumud umat Islam tidak menghendaki adanya perubahan dan tidak mau menerima suatu perubahan. Umat Islam hanya berpengang teguh pada tradisi. Sikap ini dibawa oleh orang-orang bukan Arab yang kemudian merampas kekuasaan politik di dunia Islam. Dengan terlibatnya mereka di dalam Islam, adat istiadat dan paham-paham animisme mereka ikut mempengaruhi umat Islam yang mereka perintah. Disamping itu, mereka bukan pula kalangan bangsa yang mementingkan fungsi pemakaian akal seperti yang dianjurkan dalam Islam, melainkan berasal dari bangsa yang bodoh dan tidak kenal pada ilmu pengetahuan.[20]
 Menurut Abduh pemikiran jumud ini akan membekukan akal dan berhentilah pemikiran dalam Islam. Lama-kelamaan paham jumud meluas dalam masyarakat di seluruh dunia Islam. Paham jumud yang terjadi pada masyarakat seperti pujaan yang berlebihan pada syekh dan wali, kepatuhan yang tidak ada dasarnya terhadap ulama (taklid), serta penyerahan seluruh apa yang ada pada qada dan qadar.
John L. Esposito menjelaskan landasan utama pemikiran “liberal-loyal” Muhammad Abduh yakni keyakinan bahwasanya wahyu dan akal pada dasarnya selaras. Tuhan telah menciptakan sifat dasar dari manusia itu selaras dengan agama. Dalam Risalah Tauhid, ia menjelaskan keyakinannya bahwa setiap spekulasi logis menuntun ke arah keimanan pada Tuhan sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an.[21]
Kepercayaan pada kekuatan akal merupakan dasar peradaban suatu bangsa. Akal yang terlepas dari ikatan tradisi akan dapat memperoleh jalan yang membawa pada kemajuan. Pemikiran akal akan menimbulkan ilmu pengetahuan.[22]

D.    Pemikiran-Pemikiran Muhammad Abduh
Diantara sekian banyaknya pemikir muslim, namun pemikiran Muhammad Abduhlah yang paling banyak mendapatkan perhatian serta pembahasan para orientalis Barat, baik yang pro mapun yang kontra. Hal ini disebabkan buah pikirannya dan tulisan-tulisan Abduh yang bersifat apologetik yang menyangkut aspek politik, pendidikan tafsir, tauhid, sastra dan lain sebagainya. Ide dan pemikiran Abduh ini kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh murid terbaiknya Rasyid Ridha. Selain itu, Muhammad Abduh dikenal sebagai tokoh pemikir yang independen dan bersikap liberal, karena ia banyak bersentuhan dengan peradaban Barat. Berikut ini merupakan pemikiran-pemikiran dari Muhammad Abduh.
1.      Ijtihad
Muhammad Abduh sangat menentang taklid yang dipandangnya sebagai faktor yang melemahkan jiwa umat Islam. Pandangan Abduh tentang perlunya upaya pembongkaran kejumudan yang telah sedemikian lama mengalami pengerakan tersebut akan melahirkan ide tentang perlunya melaksanakan kegiatan ijtihad. Menurut Abduh, taklid akan menghentikan akal pikiran manusia pada batas tertentu, yakni taklid sangat bertentangan dengan akal, taklid bertentangan dengan tabiat kehidupan, dan taklid itu juga bertentangan dengan tabiat dasar-dasar dan ciri Islam.[23] Muhammad Abduh mengikis habis taklid sebagai suatu prinsip, dalam bentuknya yang ada pada saat itu, seperti mengikuti mazhab secara harfiah dengan pengkultusan. Fanatisme itu disebabkan oleh adanya kelemahan pemikiran, politik, dan ekonomi pada masyarakat Islam.
Ijtihad menurut Abduh, bukan hanya boleh bahkan perlu dilakukan. Namun, menurut ia bukan berati setiap orang boleh berijtihad. Hanya orang-orang tertentu dan memenuhi syarat untuk melakukan ijtihadlah yang boleh melakukan ijtihad tersebut. Ijtihad dilakukan langsung terhadap al-Qur’an dan hadits sebagai sumber dari ajaran Islam.[24] Lapangan ijtihad adalah mengenai soal-soal muamalah yang ayat-ayat dan haditsnya bersifat umum dan jumlahnya sedikit. Sedangkan soal ibadah bukanlah bagian dari lapangan ijtihad, karena persoalan ibadah merupakan hubungan manusia dengan Tuhan, dan bukan antara manusia dengan manusia yang tidak menghendaki perubahan menurut zaman.
Bahwasanya keterbelakangan dan kemunduran yang dialami umat Islam disebabkan oleh pandangan dan sikap jumud. Maka untuk membebaskan umat Islam dari taklid, dan kembali kepada ajaran Islam yang sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits. Bahkan Abduh mengecam orang yang melakuakan taqlid. Orang yang melakukan taqlid (muqallid), menurut Abduh, memiliki derajat yang lebih rendah dari orang yang diikutinya. Karena muqallid hanya melihat lahir perbuatan orang yang diikutinya, tanpa memeriksa dasar dan rahasia perbuatannya. Hal ini membuat pekerjaan muqallid menjadi tanpa dasar dan tidak karuan.
Pandangan Muhammad Abduh tentang perlunya ijtihad dan pemberantasan taklid, tampaknya didasari atas kepercayaannya yang tinggi terhadap akal. Karena menurut Abduh, Islam menempatkan akal pada kedudukan yang tinggi. Sebab akal dapat membedakan antara baik dan yang buruk, antara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat. Islam adalah agama yang rasional, dan menggunakan akal merupakan salah satu dari dasar-dasar Islam. Kebenaran yang dicapai akal tidak bertentangan dengan kebenaran yang disampaikan oleh wahyu. Menurutnya dalil akal yang meyakinkan bertentangan dengan dalil naql yang tidak meyakinkan. Namun, masih menurut Abduh, ada dua cara yang dapat ditempuh jika ditemukan adanya kontradiksi antara dalil akal dengan dalil naql. Pertama, kita menerima dalil naql itu sebagai dalil yang sah, tetapi kita mengakui bahwa kita tidak mampu untuk memahaminya dan menyerahkan hal yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Kedua, kita menta’wilkan dalil naql itu sesuai dengan tata bahasa sehingga artinya dapat menjadi sesuai dengan yang ditetapkan oleh akal.[25]
 Meskipun begitu, Abduh tetap mengakui keterbatasan akal manusia. Menurutnya, selain akal juga diperlukan wahyu. Sebab, tanpa wahyu akal tidak mampu membawa manusia untuk mencapai kebahagiaan. Selanjutnya, Abduh berpendapat bahwa masalah-masalah yang berkenaan dengan hakekat Tuhan dan masalah-masalah metafisika, bukan merupakan wilayah sepenuhnya dapat dijangkau akal. Karena itu, penjelajahan akal dalam hal seperti itu perlu dibatasi. Disamping itu, akal juga memiliki keterbatasan dalam mengetahui kegunaan perbuatan-perbuatan tertentu, seperti jumlah raka’at shalat dan amalan-amalan dalam ibadah haji, dan sebagainnya.
Dengan demikian, ijtihad menurut Abduh sangat diperlukan dalam Islam, agar umat tidak terbelenggu oleh taklid dan memberikan kebebasan bagi umatnya untuk berijtihad selagi tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

2.      Teologi Abduh
Teologi, sebagaimana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Dalam istilah Arab ajaran-ajaran dasar itu disebut Us}u>l al-Di>n.[26] Teologi (ilmu tauhid) dalam pendapat Abduh adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, sifat-sifatnya dan soal kenabian. Definisi ini sebenarnya kurang lengkap. Alam ini adalah ciptaan Tuhan, dan oleh karena itu, teologi disamping hal-hal di atas, juga membahas hubungan Tuhan dengan makhluk-Nya.[27]  
Dalam bidang teologi (akidah) Muhammad Abduh membahas dua tema pokok, yakni:[28]
a)      Pembebasan umat Islam dari akidah kaum Jabariyah.
b)      Pemberian pengertian kepada mereka (umat Islam), bahwa akal adalah nikmat dari Allah dan harus selaras dengan agama dan risalah-Nya bagi manusia. Melalaikan kemampuan akal, berarti menutup mata dari nikmat Allah.
Muhammad Abduh berpendapat, sikap fanatik terhadap berbagai mazhab dan buku-buku yang ada secara mutlak, tidak hanya berkaitan erat dengan kelemahan kepribadian dan ilmu pengetahuan umat Islam waktu itu, sehingga tidak lagi selaras dengan al-Qur’an dan hadits. Tetapi berkaitan erat dengan akidah Jabariyah. Paham Jabariyah ini sama dengan taklid,[29] penganut paham ini hidupnya tergantung kepada prinsip kebetulan (accident). Abduh tidak rela melihat akidah Jabariyah (fatallism) dianut oleh manusia, sebab melemahkan jiwa, kemauan dan peranan positif manusia. Maka, Abduh berjuang mengikis habis paham Jabariyah, agar manusia berusaha (ikhtiar).
Dalam menghadapi paham Jabariyah ini, Abduh tidak memakai cara yang dilakukan oleh seorang filosuf yang mengemukakan pandangan hanya menurut satu segi pandangan tertentu. Ia mengemukakan pandangan dengan kritik dan padangannya seperti ahli agama yang berpandangan luas. Jadi dasar pemikirannya agama, tujuan yang ingin dicapainya juga tujuan agama, dan saran antara dasar dan tujuannya juga agama.[30]
Pendapat Abduh yang menyatakan bahwa manusia itu harus berikhtiar (usaha) didasarkan kepada ayat-ayat al-Qur’an, dan nash-nash lainnya, yang menyatakan balasan diakhirat sangat berkaitan erat dengan amal perbuatan yang dilakukan seseorang di dunia. Kepercayaan kepada kekuatan akal membawa Muhammad Abduh kepada paham bahwasanya manusia mempunyai kebebasan dalam kemauan dan perbuatan (free will and free act atau qadariyah). Ia menyatakan bahwa manusia mewujudkan perbuatannya dengan kemauan dan usahanya sendiri, dengan tidak melupakan bahwa di atasnya masih ada kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi.
Di dalam al-Urwatul Wuthqa, ia dan Jamaluddin al-Afghani menjelaskan bahwa paham qada dan qadar telah diselewengkan menjadi paham fatalisme, sedangkan paham itu sebenarnya mengandung paham yang dinamis yang dapat membawa umat pada kemajuan sebagaimana yang terjadi pada zaman klasik. Paham fatalisme yang terdapat dikalangan umat Islam perlu diubah dengan paham kebebasan dalam kemauan dan perbuatan.[31] Keyakinan akan qada dan qadar tidak sama dengan keyakinan fatalisme (Jabariyah). Percaya kepada qada diperkuat oleh dalil, dan bahkan memang sesuai dengan fitrah kejadian. Manusia merupakan makhluk yang berpikir dan berikhtiar dalam amal perbuatan menurut petunjuk pikirannya. Manusia memiliki kehendak bebas karena ia memiliki pikiran untuk menentukan pilihan dalam perbuatannya. Menurut Abduh tak satu pun yang dapat membawa paksaan bagi manusia untuk beramal. Pilihan perbuatan yang dilakukan manusia akan menimbulkan konsekuensi, yakni jika perbuatan itu baik, maka diberi pahala, namun jika perbuatan itu jahat maka pelakunya akan memperoleh siksa.

3.      Pemikiran Politik
Menurut Muhammad Abduh, Islam tidak menetapkan suatu bentuk tertentu dalam pemerintahan. Jika bentuk khalifah masih tetap menjadi pilihan dalam pemerintahan, maka bentuk demikianpun harus mengikuti perkembangan masyarakat.[32] Ini mengandung maksud bahwa apa pun bentuk dari suatu pemerintahan, Abduh menghendaki pemerintahan yang dinamis. Dengan demikian, ia mampu mengantisipasi perkembangan zaman.
Abduh mengatakan bahwa rakyat merupakan sumber kekuasaan bagi pemerintah. Rakyatlah yang mengangkat dan memiliki hak memaksa pemerintah. Oleh karena itu rakyat harus menjadi pertimbangan utama dalam menetapkan hukum untuk kemaslahatan meraka.[33] Karena sumber kekuasaan adalah rakyat, Islam tidak mengenal kekuasaan agama,[34] seperti yang terdapat dalam Kristen Katolik pada abad pertengahan di Barat. Islam tidak memberikan kekuasaan kepada seorangpun selain kepada Allah dan Rasul-Nya.
Menurut Abduh, salah satu prinsip ajaran Islam adalah mengikis habis kekuasaan agama sehingga setelah Allah dan Rasul-Nya, tidak ada seorangpun yang mempunyai kekuasaan atas akidah dan agama orang lain.[35] Bukankah Nabi Muhammad hanyalah seorang mubalig dan pemberi peringatan tanpa adanya pemaksaan untuk mengikuti ajarannya. Pendapatnya ini mengisyaratkan ketidaksepakatannya dengan para pemikir politik pada masa klasik dan masa pertengahan, yang menyatakan bahwa kekuasaan khalifah atau kepala negara itu merupakan mandat dari Allah, maka dengan demikian ia harus bertenggungjawab kepada Allah pula. Menurut Abduh, khalifah atau kepala negara hanya seorang penguasa sipil yang diangkat dan diberhentikan oleh rakyat dan bukanlah hak Tuhan untuk mengangkat dan memberhentikannya.
Dalam hal ketaatan, menurut Abduh rakyat tidak boleh menaati pemimpin yang berbuat maksiat yang bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits, jika pemimpin berbuat sesuatu yang bertentangan, rakyat harus menggantinya dengan orang lain, selama proses itu tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar dari pada maslahatnya. Dengan kekuasaan politik yang dipegang oleh pemimpin, hendaknya prinsip-prinsip ajaran Islam dapat dijalankan oleh yang mempunyai hak dan wewenang. Usaha pemimpin atau pemerintah untuk menerapkan prinsip-prinsip Islam disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Undang-undang yang adil dan bebas bukanlah didasarkan pada prinsip-prinsip budaya dan politik negara lain. Abduh mengatakan bahwa harus ada hubungan yang erat antara undang-undang dan kondisi negara setempat.[36] Karena setiap negara berbeda menurut perbedaan tempat, kondisi perdagangan dan pertanian. Warganya pun berbeda-beda dalam tradisi, moral, keyakinan, dan sebagainya. Peraturan yang cocok dan bermanfaat untuk satu bangsa, belum tentu cocok dan sesuai untuk bangsa yang lainnya. Maka perundang-undangan harus memperhatikan dengan benar perbedaan manusia, sesuai dengan tingkat, kondisi, tempat tinggal, keyakinan dan tradisinya. Hal tersebut akan memudahkan baginya untuk mengambil hal yang berguna dan mencegah dari  yang bahaya.

4.      Pemikiran Pendidikan
Modernisme dalam bidang pendidikan adalah bagian terpenting dari modernisme sosial, ekonomi, dan politik.[37] Maksudnya untuk membangun suatu tatanan masyarakat yang modern, maka pendidikan merupakan agen yang amat penting sebagai media transformasi nilai budaya maupun pengetahuan. Hal senada juga dikemukan oleh Belling dan Toten bahwasanya pendidikan merupakan instrumen dalam modernisasi yang lebih mudah dibandingkan dengan modernisasi dalam bentuk modal untuk membeli teknologi. Pendidikan akan mendorong berkembangnya intelegensi dan produk kebudayaan masyarakat.[38] Pendapat mereka ini jelas mengandung implikasi bahwa investasi sumber daya manusia lewat pendidikan akan lebih menjanjikan dari pada dalam bentuk modal untuk membeli teknologi. Yang pada dasarnya mempersiapkan manusia lewat pendidikan sama halnya dengan mentranfer teknologi.
Pendapat yang mengatakan adanya relevansi yang signifikan antara pembaharuan dengan pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh Syafi’i Ma’arif, bahwa salah satu fungsi pendidikan adalah membebaskan masyarakat dari belenggu keterbelakangan.[39] Artinya untuk mengadakan perubahan pembaharuan dalam masyarakat, yang menjadi kuncinya adalah pendidikan.
Muhammad Abduh merupakan tokoh pemikir yang juga menaruh perhatian terhadap pendidikan. Hal ini terlihat dari usahahnya untuk mendorong agar umat Islam mementingkan persoalan pendidikan sebagai jalan untuk memperoleh pendidikan. Selain mengetahui pengetahuan agama, umat Islam juga dituntut untuk mengetahui dan memahami pengetahuan modern. Hal ini terlihat dari usahanya dalam mereformasi kurikulum al-Azhar yang juga merupakan almamaternya sendiri, dengan memperjuangkan agar mahasiswa al-Azhar juga diajarkan mata kuliah filsafat, demi menghidupkan kembali dan mengembangkan intelektualisme Islam yang telah padam itu.[40] Selain itu, memasukkan ilmu-ilmu modern agar ulama-ulama mengerti kebudayaan modern dan dengan demikian dapat mencari penyelesaian yang baik bagi persoalan-persoalan yang timbul di zaman modern ini.
Mereformasi sistem pendidikan di al-Azhar akan mempunyai pengaruh yang besar dalam usaha moderenisasi Islam. Hal ini menurut Abduh lembaga pendidikan al-Azhar merupakan tujuan para pelajar segala penjuru dunia. Dari sinilah nantinya para lulusan dapat menjadi para pembaharu Islam yang akan dibawa ke negaranya masing-masing.
Disamping itu, Abduh juga mengusulkan agar sekolah-sekolah pemerintah yang telah didirikan untuk mencetak ahli administrasi, militer, kesehatan, pendidikan, perindustrian, dan sebagainya, memerlukan pendidikan yang lebih kuat, termasuk sejarah Islam dan sejarah kebudayaan Islam. Atas usahannya itu maka didirikanlah Majelis Pengajaran Tinggi.[41]
Sistem dualisme dalam pendidikan akan membahayakan dunia pendidikan. Menurut Abduh, sistem madrasah lama akan mengeluarkan ulama-ulama yang tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu-ilmu modern. Sebaliknya sekolah-sekolah pemerintah akan mengeluarkan ahli-ahli yang sedikit pengetahuannya tentang ilmu-ilmu agama. Sehingga muhammad Abduh menyarankan untuk menambah pengetahuan umum pada madrasah-madrasah dan menambah pengetahuan agama pada sekolah-sekolah umum. Dengan demikian, jurang pemisah antara dua lembaga pendidikan itu dapat ditanggulangi.
Kemudian menurut Abduh bahasa Arab perlu dihidupkan dan untuk itu metodenya perlu dilakuakn perbaikan dan ini berkaitan dengan metode pendidikan. Sistem mengahafal di luar kepala perlu diganti dengan sistem penguasaan dan penghayatan serta penalaran materi yang dipelajari.[42] Bahasa Arab yang selama ini menjadi bahasa baku tanpa pengembangan, oleh Abduh dikembangkan dengan metode menerjemahkan teks-teks pengetahuan modern ke dalam bahasa Arab, terutama istilah-istilah yang muncul yang padanannya tidak ditemukan dalam kosakata Arab.


E.     KESIMPULAN
Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 M di Mesir dan wafat pada tahun 1905 M. Ia hidup dilingkungan pedesaan dengan karakter penduduknya yang gigih bekerja dan giat dalam berusaha, beriman kepada Allah dan yakin di akhirat kelak akan mendapatkan balasan dari-Nya. Abduh dianggap seorang arsitek modernisme Islam, yang melakukan pembaharuan-pembaharuan di bidang pendidikan, politik, teologi, dan sebagainya.
Muhammad Abduh mendalami ilmu pengetahuan dengan belajar di al-Azhar pada tahun 1866, di al-Azhar inilah ia bertemu dengan Jamaluddin al-Afghani dan menjadi murid setianya. Berbeda dengan gurunya al-Afghani, Abduh menitik beratkan pembaharuannya dibidang pendidikan dan keilmuan lebih menentukan dari bidang politik. bahwa keterbelakangan umat Islam yang sangat memprihatinkan itu adalah hilangnya tradisi intelektual, yang intinya kebebasan berpikir.
Adapun modernisasi yang dilakukan oleh Muhammad Abduh, yakni membebaskan  umat Islam dari sifat jumud dan memberantas taklid serta memberi kebebasan dalam berijtihad. Abduh juga merombak sistem pendidikan di sekolah-sekolah dengan memasukan pengetahuan modern disamping pengetahuan agama.












DAFTAR PUSTAKA

al-Bahiy, Muhammad. 1986. Pemikiran Islam Modern. Jakarta: Pustaka Panjimas. Cet. I.
Asmuni, Yusran. 1998. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Cet. II.
Belling dan Toten. 1985. Modernisasi Modal Pembangunan.Jakarta: Yayasan Ilmu-ilmu Sosial.
Esposito, John L. 2001. Ensiklopedia Oxford, Dunia Islam Modern. Bandung: Mizan.
--------------------- 1986. Identitas Islam Pada Perubahan Sosial-Politik. Jakarta: Bulan Bintang. Cet I
Ma’arif, Syafi’i. 1994. Peta Intelektual Muslim Indonesia. Bandung: Mizan.
Madjid, Nurcholish. 1987. Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan. Cet. I.
Mulkhan, Abdul Munir. Paradigma Intelektual Muslim, Pengantar Filsafat Pendidikan dan Dakwah. Jogjakarta: SI Press.
Munir Mulkhan, Abdul. 1993. Paradigma Intelektual Muslim, Pengantar Filsafat Pendidikan dan Dakwah. Jogjakarta: SI Press.
Nasution, Harun. 1975. Pembaharuan Dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan). Jakarta: Bulan Bintang. Cet. I.
--------------------- 1985. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid I. Jakarta: UI-Press.
--------------------- 1987. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazillah. Jakarta: UI Press.
Pulungan, Suyuthi. 1999. Fiqh Siyasah. Jakarta: Rajawali Pers.
Ridha, Muhammad Rasyid. 1931. Ta>rikh al-Ustaz} al-Imam Muhammad Abduh, jilid III. Kairo: Da>r al-Manar.
Saefuddin, Didin. 2003. Pemikiran Modern dan Postmodern Islam. Jakarta: Grasindo.
Syadzali, Munawir. 1993. Islam dan Tatanegara, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran. Jakarta: UI Press.







[1] Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), Cet. II, 1
[2] Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam, 2
[3] Nurcholish Madjid, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan (Bandung: Mizan, 1987), Cet. I, 172
[4] Nurcholish Madjid, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan
[5] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid I (Jakarta: UI-Press, 1985), 50
[6] Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam, 5-6
[7] Napoleon Bonaparte lahir pada tanggal 15 Agustus 1769 di Ajaccio (Perancis) dan meniggal dunia pada 5 Mei 1821. Napoleon menyerbu Mesir pada 2 Juli 1798, mula-mula mendarat di Iskandariyah dan dalam waktu tiga minggu ia dapat menguasai seluruh Mesir. Walaupun Napoleon hanya sekitar tiga minggu menguasai Mesir (1789-1801), namun pengaruhnya sangat besar terhadap hidup dan kehidupan bangsa Mesir. Lihat Yusran Amuni, 66-67
[8] Males Sutiasumarga, Kesusastraan Arab Asal Mula dan Perkembangannya (Jakarta: Zikrul Hakim, 2001), 99. Tujuan politis yang dimaksudkan disini adalah Napoleon melihat bahwasanya Mesir perlu diletakkan dibawah kekuasaan Perancis, karena pada waktu itu Perancis mulai menjadi negara besar pasca revolusi tahun 1789 M, dan samping itu perancis perlu memasarkan hasil-hasil industrinya. Kemudian Napoleon ingin mengikuti jejak Alexander Macedonia yang pernah menguasai Eropa dan Asia sampai ke India, sehingga Napoleon memiliki keinginan untuk menguasai kerajaan besar, yakni Kairo.
[9] Selain kontak yang terjadi antara dunia Islam dan dunia Barat, yang menyebabkan pembaharuan Islam. Faktor lain yang mendorong umat Islam untuk bangkit dan melakukan pembaharuan yakni, pertama paham tauhid yang dianut kaum muslim telah bercampur dengan kebiasaan-kebiasaan yang dipengaruhi oleh tarekat-tarekat, pemujaan terhadap orang-orang suci dan hal-hal lain yang membawa kepada kekufuran. Kedua, sifat jumud yang membuat umat Islam berhenti berpikir dan berusaha, umat Islam maju di zaman klasik karena mereka mementingkan ilmu pengetahun, untuk itu perlu adanya pembaharuan memberantas kejumudan tersebut. Ketiga, umat Islam selalu berpecah belah, maka umat Islam tidak akan mengalami kemajuan jika perpecahan itu masih ada, maka agar umat Islam maju perlu adanya persatuan dan kesatuan. Dengan demikian dibutuhkan suatu gerakan untuk memperbaharui itu semua.
[10] Males Sutiasumarga, Kesusastraan Arab Asal Mula dan Perkembangannya, 100
[11] John L. Esposito, Ensiklopedia Oxford, Dunia Islam Modern (Bandung: Mizan, 2001), 21
[12] Muhammad Rasyid Ridha, Ta>rikh al-Ustaz} al-Imam Muhammad Abduh, jilid III (Kairo: Da>r al-Manar, 1931), 13
[13] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam (Jakarta: Grasindo, 2003),19
[14]  Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan), (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), Cet. I, 58
[15] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, 58
[16] Pan-Islamisme adalah suatu gagasan dari al-Afghani dalam menyatukan kaum muslimin ke dalam satu ikatan kerjasama demi menghadapi hegemoni Barat.
[17] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, 19
[18] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam,21
[19] Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam, 80
[20] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, 62
[21] John L. Esposito, Ensiklopedia, 130
[22] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, 64
[23] Muhammad al-Bahiy, Pemikiran Islam Modern (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986), Cet. I, 91
[24] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, 64
[25] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, 24
[26] Harun Nasution, Teologi Islam (Jakarta: UI Press, 1985)
[27] Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazillah (Jakarta: UI Press, 1987), 28
[28] Muhammad al-Bahiy, Pemikiran Islam Modern, 77
[29] Taklid mengimplikasikan keharusan untuk mengikuti para ulama saja, dan demi suatu keselamatan, seorang pemeluk Islam dilarang mengikuti orang-orang lain apalagi dari kalangan bukan muslim. Meskipun mengenai hal-hal yang tidak langsung bersifat keagamaan. Dan semangat taklid tersebut sebagai suatu pandangan hidup, berujung pada sikap yang hampir menyucikan warisan nenek moyang.
[30] Muhammad al-Bahiy, Pemikiran Islam Modern,78
[31] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, 25
[32] Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah (Jakarta: Rajawali Pers, 1999), 282
[33] Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah, 286
[34] Maksud dari Muhammad Abduh, bahwa Islam tidak mengenal adanya kekuasaan agama yakni, Pertama, Islam tidak memberikan kekuasaan kepada seseorang atau sekelompok orang untuk menindak orang lain atas nama agama atau berdasarkan mandat agama atau dari Tuhan. Kedua,Islam tidak membenarkan campur tangan seseorang, penguasa, dalam kehidupan dan urusan keagamaan orang lain. Ketiga, Islam tidak mengakui hak seseorang untuk memaksakan pengertian, pendapat, dan penafsirannya tentang agama atas orang lain.   
[35] Munawir Syadzali, Islam dan Tatanegara, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: UI Press, 1993), 131
[36] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, 33
[37] Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, Pengantar Filsafat Pendidikan dan Dakwah (Jogjakarta: SI Press, 1993), 123
[38] Belling dan Toten, Modernisasi Modal Pembangunan (Jakarta: Yayasan Ilmu-ilmu Sosial 1985), 19
[39] Syafi’i Ma’arif, Peta Intelektual Muslim Indonesia (Bandung: Mizan, 1994), 40
[40] Nurcholish Madjid, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan, 311
[41] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, 33
[42] Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam, 81

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar